Dr. H. Suf Kasman, M. Ag., M.H., M. Pd

"๐•ƒ๐•–๐•Ÿ๐•ค๐•’ ๐•๐•ฆ๐•ฃ๐•Ÿ๐•’๐•๐•š๐•ค๐•ฅ๐•š๐•œ ๐•€๐•ค๐•๐•’๐•ž๐•š ๐Ÿ’ฅ๐๐Ž๐‹๐„๐‡๐Š๐€๐‡ ๐Œ๐”๐’๐‹๐ˆ๐Œ ๐Œ๐„๐๐†๐”๐‚๐€๐๐Š๐€๐ โ€œ๐’๐„๐‹๐€๐Œ๐€๐“ ๐๐€๐“๐€๐‹โ€?๐Ÿ’ฅ ๐’๐ฎ๐Ÿ ๐Š๐š๐ฌ๐ฆ๐š๐ง Tatkala ufuk Desember menyapa, sebuah tanya lama kembali mengetuk kesadaran umat. Ia lahir dari rahim

waktu yang sama, berulang setiap tahun tanpa pernah benar-benar layu: Bolehkah seorang Muslim melisankan โ€œ๐—ฆ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐˜ ๐—›๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ก๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—นโ€? Polemik mengucap ๐—ฆ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐˜ ๐—›๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ก๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—น ini bukan sekadar perdebatan musiman. Melafalkan ๐—ฆ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐˜ ๐—›๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ก๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—น adalah ujian

konsistensi iman Islamiโ€”sebuah simpang jalan yang menuntut kejernihan nalar dan keteguhan sikap. Sebab di balik satu kalimat sederhana tentang ๐—ฆ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐˜ ๐—›๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ก๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—น, berdiri benteng akidah yang tak boleh retak oleh euforia toleransi yang kehilangan batas. Momentum ini mengajak untuk menyingkap kembali tirai perdebatan, bukan dengan amarah, melainkan

dengan kehati-hatian qalbu. Banyak jiwa hari ini terperangkap dalam labirin keraguan: antara ingin tampak ramah dan takut kehilangan pijakan iman. Di sinilah urgensi membasuh pemahaman, agar toleransi tetap berwajah adab, bukan peniruan yang membingungkan. Bukankah seorang Muslim dianugerahi kemampuan untuk memilah dan memilihโ€”membedakan yang selaras dengan ajarannya dari yang menyimpangโ€”dengan

nalar yang jernih? โ€œ๐˜‹๐˜ข๐˜ฏ ๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ,โ€ (QS. Al-Balad: 10). Anda ingin berbelok ke kanan? Silakan. Ingin menikung ke kiri? Tafadhdhal! Namun, Al-Qurโ€™an telah memberi penanda: ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜จ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ

๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜จ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช (QS. Al-Waqiโ€™ah: 8โ€“9). Maka aku memantapkan langkah ke arah kananโ€”๐˜ˆ๐˜ด๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ญ ๐˜ ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏโ€”demi keselamatan di dunia dan keabadian di akhirat. Pilihan ini sekaligus menegaskan satu sikap: bagi umat Muslim, mengucapkan โ€œ๐—ฆ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐˜ ๐—›๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ก๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—นโ€

bukanlah perkara netral, melainkan perkara akidah. Statusnya jelas: haram. Larangan mengekspresikan ๐—ฆ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐˜ ๐—›๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ก๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—น ini bukan hukum kaku tanpa hikmah, melainkan benteng api yang menjaga kemurnian tauhid agar tak lumat oleh cairnya toleransi semu. Apalagi bila langkah itu melaju lebih jauh: komunitas Muslim memasuki gereja demi meramaikan perayaan

kelahiran Yesus Kristus. Nehiโ€ฆ nehi, ๐˜”๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด๐˜ด๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜“๐˜ฐ๐˜ฑ๐˜ฑ๐˜ฐ! Larangan itu berdiri tegak, bagai pagar beton menjulang tinggi, menghalangi setiap โ€œpujianโ€ dan โ€œdoa restuโ€ yang ingin diselipkan kepada keyakinan yang tidak kita imani. Kalimat perayaan ๐—ฆ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐˜ ๐—›๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ก๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—น itu, yang seharusnya terbang

bebas di komunitas pengikut Kristus, bagi seorang Muslim cukup berubah menjadi sapaan kemanusiaan yang beradab: โ€œSaudaraku, bagaimana kabar hari rayamu?โ€ Ada keinginan tulus untuk berbagi kebahagiaan, namun agamaku menahan lidah merah-ku. Doktrin iman melarangku mengobral keyakinan semurah-murahnya. Aku rela dianggap kolot, kampungan, bahkan tertinggal zamanโ€”asal sujudku tak pernah berkhianat

pada kiblat kemurnian. Lebih baik membeku menjadi semen Tonasa di garda kesetiaan, daripada ikut meliuk-liuk dalam orkestra perayaan ๐—›๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ก๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—น yang tak berpijak pada akar imanku. Di musim yang riuh ini, kerap aku menyaksikan fenomena yang menggelisahkan: seorang Muslim begitu ringan melantunkan ucapan ๐—ฆ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐˜ ๐—›๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ก๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—น yang

tak diimani oleh kitab sucinya. Mereka menyebutnya toleransi; bagiku, itu abrasi jati diri. Mereka mengejar pengakuan manusia, seraya lupa bahwa ada batas suci yang sedang dipertaruhkan di hadapan Sang Pemilik Semesta. Bukankah Rasulullah ๏ทบ telah mengingatkan: โ€œ๐˜‰๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฎ,

๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ช๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ.โ€ (HR. Abu Dawud). Di atas singgasana keyakinan yang teguh, aku bersaksi dengan haqqul yaqin: mustahil Ar-Rahman murka hanya karena aku memagari lisanku dari kalimat ๐—ฆ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐˜ ๐—ก๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—น yang tak selaras dengan tauhid. Bagaimana mungkin Sang

Pencipta murka kepada hamba yang menjaga kehormatan imannya? Akal sehatku menolak tunduk pada ilusi bahwa bibir yang memeriahkan ๐—ฆ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐˜ ๐—ก๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—น akan memanen ridha dari Sang Pembawa Al-Furqan. Bagaimana mungkin Al-Mustafa ๏ทบ ridha, sementara Beliaulah yang memancang garis tegas antara putihnya iman dan gelapnya kekufuran? Betapa banyak manusia dipuja di panggung

dunia, namanya menggema hingga ke ujung benua. Namun di pintu-pintu langit, mereka hanyalah asing yang tak dikenal. Sebaliknya, betapa banyak pengabdi sunyiโ€”tak tercatat di bumi, namun namanya menjadi kidung agung di perbincangan para malaikat. Wahai saudara Muslimku, Biarkanlah saudara kita dari umat Kristiani menapaki harakah imannya sendiri. Penghormatan tidak selalu harus menjelma

Kacoe'-coe' (peniruan). Toleransi tidak pernah menuntut pengorbanan akidah. Tak perlu melisankan ucapan ๐—ฆ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐˜ ๐—›๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ก๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—น yang bukan dari keyakinan kita, apalagi melangkah masuk ke ruang ibadah mereka demi meramaikan hari rayanya. Menjaga jarak dalam akidah bukanlah kebencian, melainkan bentuk tertinggi dari kesetiaan. Sungguh, sebagian

Muslim telah melangkah terlalu jauhโ€”melampaui garis yang telah ditegaskan agamanya. Di sanalah toleransi kehilangan maknanya; ia tak lagi bernama tasamuh, melainkan tergelincir menjadi โ€œ๐—ง ๐—ข ๐—Ÿ ๐—ข ๐—Ÿ ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐˜€๐—ถโ€: bingung pada batas, lupa pada pijakan. ๐Ÿ๐Ÿ ๐ƒ๐ž๐ฌ๐ž๐ฆ๐›๐ž๐ซ ๐Ÿ๐ŸŽ๐Ÿ๐Ÿ“"