Dr. H. Muh Ashar Tamanggong, M.A

"Kultum (Kuliah Terserah Antum) Serial Isra Mi'raj Takbiratul Ihram: Semua Kecil di Hadapan-Nya Oleh Ashar Tamanggong (Pembimbing Haji Patria Wisata) Dalam rangkaian sholat, ada satu kalimat yang sangat pendek, tapi dampaknya seharusnya sangat besar. Kalimat itu hanya dua kata: Allahu Akbar. Kita ucapkan sambil mengangkat tangan. Namanya takbiratul ihram—takbir yang mengharamkan. Artinya, sejak

kalimat itu diucapkan, semua yang tadinya halal dilakukan, mendadak jadi terlarang. Ngobrol haram. Main HP haram. Noleh-noleh haram. Bahkan senyum ke kanan-kiri pun bisa batal kalau kebablasan. Lucunya, yang sering “tidak haram” justru pikiran kita. Badan sudah berdiri menghadap kiblat, tapi pikiran masih di pasar, di kantor, di cicilan, bahkan di chat terakhir yang belum dibalas. Mulut bilang

Allahu Akbar, tapi isi kepala bilang: “Nanti habis sholat mau ngapain ya?” Padahal takbiratul ihram itu deklarasi iman. Pernyataan resmi bahwa saat ini, Allah lebih besar dari apa pun. Lebih besar dari masalah. Lebih besar dari jabatan. Lebih besar dari rasa takut. Lebih besar dari ego kita sendiri. Isra’ Mi’raj mengajarkan satu hal penting: ketika Nabi Muhammad ﷺ naik menembus langit,

semua yang besar di dunia mendadak menjadi kecil. Jarak menjadi tidak berarti. Hukum fisika tunduk. Logika manusia menyerah. Karena di hadapan Allah, semua ukuran dunia tidak lagi berlaku. Dan sholat—yang merupakan hadiah langsung dari peristiwa Isra’ Mi’raj—dimulai dengan kalimat yang sama: Allahu Akbar. Seakan Allah ingin berkata, “Kalau mau naik derajat hidupmu, mulai dulu dengan

mengecilkan yang lain.” Masalah kita hari ini sering bukan karena Allah kurang besar, tapi karena kita membesarkan yang lain. Masalah sedikit dibesarkan. Omongan orang dibesarkan. Status sosial dibesarkan. Jabatan dibesarkan. Bahkan gengsi dibesarkan. Akhirnya Allah mengecil—bukan dalam kenyataan, tapi dalam perasaan kita. Coba jujur. Berapa banyak orang sholat tapi masih merasa paling hebat?

Paling benar? Paling berjasa? Kalau itu masih ada, berarti takbirnya baru sampai bibir, belum turun ke hati. Takbiratul ihram itu seharusnya seperti tombol “off” dunia. Begitu tangan diangkat dan Allahu Akbar diucapkan, semua urusan dunia dikecilkan. Bukan hilang, tapi ditaruh di tempat yang benar. Dunia bukan di kepala, tapi di tangan. Yang di kepala dan hati, hanya Allah. Makanya posisi tangan

diangkat. Seolah kita sedang melepaskan. Melepaskan beban. Melepaskan status. Melepaskan kepentingan. Melepaskan keakuan. Tapi sayangnya, banyak dari kita mengangkat tangan, tapi tidak benar-benar melepas. Kita masuk sholat masih membawa rasa kesal. Masih membawa dendam. Masih membawa iri. Bahkan masih membawa perasaan ingin dipuji. Ini seperti mau menghadap raja, tapi masih sibuk memikirkan urusan

warung di depan istana. Dalam Isra’ Mi’raj, Nabi ﷺ tidak membawa apa-apa kecuali diri dan amanah sebagai hamba. Tidak membawa harta. Tidak membawa pengikut. Tidak membawa status. Hanya kehambaan. Dan sholat meniru pola itu. Berdiri sendiri. Menghadap satu arah. Mengucap satu kalimat: Allahu Akbar. Kalimat ini juga tamparan halus untuk ego. Karena ego selalu ingin besar. Ingin diakui. Ingin

dipentingkan. Tapi sholat mengajarkan: yang besar hanya Allah, kita ini kecil. Dan anehnya, justru ketika kita merasa kecil di hadapan Allah, hidup terasa lebih lapang. Banyak orang stres karena merasa harus mengendalikan segalanya. Padahal takbiratul ihram mengajarkan seni melepaskan. Tidak semua harus kita atur. Tidak semua harus kita menangkan. Tidak semua harus kita balas. Ada Allah yang Maha

Besar. Coba resapi. Kalau Allah Maha Besar, seharusnya masalah kita tidak terasa terlalu besar. Kalau Allah Maha Besar, omongan manusia tidak perlu terlalu diambil hati. Kalau Allah Maha Besar, kegagalan bukan akhir segalanya. Tapi kalau sholat tidak mengubah cara kita memandang hidup, mungkin takbir kita belum benar-benar menjadi ihram. Masih longgar. Masih bocor. Masih bisa dimasuki dunia dari

segala arah. Sholat bukan sekadar ritual gerak, tapi latihan perspektif. Mengubah cara melihat. Dari merasa besar di dunia, menjadi sadar diri di hadapan Allah. Maka mulai saat ini ketika takbiratul ihram, jangan terburu-buru. Angkat tangan pelan-pelan. Ucapkan dengan sadar. Biarkan hati ikut bicara: “Ya Allah, Engkau Maha Besar. Yang lain kecil. Termasuk aku, egoku, dan masalahku.” Kalau itu

benar-benar terjadi, sholat bukan hanya sah secara fiqih, tapi hidup pun ikut tertata. Karena sejak takbir pertama, kita sudah belajar satu hal penting: di hadapan-Nya, semua kecil—kecuali Allah. Wallahu A'lam"