Prof. Dr. KH.Munawir Kamaluddin, M.Ag, MH

"”MERAJUT BAHAGIA DI USIA SENJA: Upaya Berdamai dengan Senandung Luka Masa Lalu” Oleh: Munawir Kamaluddin Ada masa ketika kehidupan membawa manusia ke sebuah persimpangan panjang. Dan di sana, usia yang menanjak tiba-tiba terasa seperti cermin yang memantulkan baik kegagalan maupun keberhasilan, baik kenangan indah maupun luka yang diam-diam kita simpan rapat selama puluhan tahun. Usia senja

datang bukan sekadar sebagai angka, melainkan sebagai pengingat bahwa waktu tidak selamanya memihak, namun juga memberi kesempatan terakhir untuk memulihkan apa yang pernah retak. Seringkali manusia memikul bagasi emosional yang terlalu berat, kekecewaan kepada pasangan, kekecewaan kepada diri sendiri, mimpi-mimpi yang ambruk tanpa pernah bangkit, dan luka hati yang tak kunjung sembuh. Namun, apakah

kebahagiaan benar-benar harus mati hanya karena masa lalu pernah kelam? Jawabannya adalah tidak. Allah tidak menutup pintu hidup dengan gelap, Ia selalu meninggalkan celah cahaya. Firman-Nya menenangkan kalbu: قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ “Wahai

hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.”(QS. Az-Zumar: 53). Ayat ini adalah tiket pulang bagi hati yang lelah. Namun, untuk sampai pada kebahagiaan itu, manusia tidak boleh membiarkan masa lalu hidup terlalu lama dalam dadanya. Luka tidak boleh dipelihara seperti pusaka. Ia harus dilepas dengan lapang, lalu diganti dengan usaha

memperbaiki apa yang masih tersisa. Kunci pertama adalah membuka komunikasi, sebab keluarga runtuh bukan karena badai besar, tetapi karena dinding yang makin tebal antar hati. Berapa banyak suami dan istri yang tinggal dalam satu rumah, namun sesungguhnya hidup dalam dua dunia yang berbeda? Padahal Nabi SAW. bersabda: إِنَّمَا يُعْرَفُ النَّاسُ بِالتَّوَاصُلِ

“Manusia saling mengenal melalui keterhubungan (komunikasi).” (Makna umum hadis-hadis tentang silaturahim dan mu’amalah) Ucapan yang jujur, walau perlahan, walau terbata-bata, sering menjadi jembatan untuk menyeberangkan hati yang keliru memahami. Karena terluka tanpa suara hanya memperdalam jurang. Lalu, ada sikap take and give(memberi dan menerima). Banyak rumah tangga hancur bukan karena

pertikaian besar, tetapi karena keduanya hanya ingin didengar, tidak ingin mendengar. Keduanya ingin dipahami, tapi tak mau berusaha memahami. Padahal, sabda Nabi SAW. mengingatkan: خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.” (HR. Tirmidzi) Tidak mungkin menjadi baik kepada keluarga tanpa memberi ruang bagi

pendapat orang lain, tanpa menempatkan ego di bawah akhlak, dan tanpa belajar mengalah untuk menang bersama. Karena itu, ego dan gengsi harus turun tahta dari singgasana hati. Ego tidak pernah memulihkan luka, ia hanya memperdalamnya. Gengsi tidak pernah menyelamatkan hubungan, ia hanya menunda keruntuhannya. Ali bin Abi Thalib RA. pernah menegur jiwa manusia: مَنْ تَرَكَ

الْحَيَاءَ تَرَكَهُ الْخَيْرُ “ Barangsiapa meninggalkan kerendahan hati, maka kebaikan pun meninggalkannya.” Mengakui kekurangan bukan kelemahan, melainkan permulaan pertumbuhan. Dan pada akhirnya, semua jalan menuju kedamaian hanya bermuara pada satu poros ridha Allah. Bagaimana mungkin sebuah rumah ingin sejati damai bila penghuninya enggan menghadirkan Allah dalam

percakapan, keputusan, dan pengorbanan? Allah menjanjikan: وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ “Dan perbaikilah hubungan di antara kalian.” (QS. Al-Anfal: 1). Perbaikan itu tidak mungkin hadir tanpa keinginan memaafkan. Bahkan memaafkan seseorang yang tidak meminta maaf pun adalah bentuk penyembuhan tertinggi. Rasulullah SAW. bersabda: لَيْسَ الشَّدِيدُ

بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ مَنْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ “Orang kuat bukanlah orang yang pandai mengalahkan musuhnya, tetapi orang yang mampu menahan amarahnya.”(HR. Bukhari dan Muslim). Maka, siapa pun yang ingin merajut bahagia di usia senja harus mulai melupakan luka, bukan untuk menyangkalnya, tetapi untuk

membebaskan diri. Karena melepaskan dendam adalah cara tercepat mengundang rahmat. Dan setelah komunikasi dibuka, hati direndahkan, gengsi dipatahkan, dan ridha Allah dikejar, maka mencari titik temu menjadi ibadah, bukan beban. Perbedaan bukan ancaman, ia adalah ladang pahala. Karena tidak ada dua manusia yang diciptakan serupa dalam rasa, pikiran, dan harapan. وَمِنْ آيَاتِهِ أَن

خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan pasangan-pasangan agar kalian memperoleh ketenangan padanya, dan Dia menjadikan di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang.”(QS. Ar-Rum:

21). Ayat ini hadir bukan sebagai puisi indah yang dibaca di akad nikah, tapi sebagai pegangan harian agar cinta tetap bernapas walau badai mengancam. Maka, kebahagiaan di usia senja bukanlah hasil dari pelarian masa lalu, tetapi buah dari keberanian untuk berhadapan dengannya dan berkata: “Aku tidak akan lagi hidup sebagai tawananmu.” Dan ketika sepasang hati akhirnya berdamai,dengan dirinya,

pasangannya, takdirnya, dan dengan Allah, maka rumah yang biasa akan berubah menjadi ladang pahala, luka akan berubah menjadi hikmah, dan usia senja yang dulu menakutkan akan menjadi waktu paling hangat untuk menikmati sisa perjalanan. Karena sesungguhnya, selama napas masih bisa naik turun di dada, belum pernah terlambat bagi siapa pun untuk merajut bahagia dan mengundang ridha Allah turun melalui

harmonisasi keluarga. # Wallahu A’lam Bush-Shawab🙏MK SEMOGA BERMANFAAT Al-Fakir. Munawir Kamaluddin"